Latest Post

Garuda bakal pisahkan lagi pembayaran airport tax

Kamis, 25 September 2014 | 25.9.14

Merdeka.com - Setelah mendukung pelaksanaan penerapan passenger service charge (PSC) atau yang lebih dikenal airport tax oleh penumpang, pada tiket selama dua tahun ini. Garuda Indonesia bakal kembali memisahkan pembayaran layanan airport dengan tiket.

Garuda Indonesia menegaskan pemisahan kembali, karena habisnya masa berlaku kontrak kerjasama pengutipan PSC pada 30 September 2014 mendatang. "Maka efektif 1 Oktober 2014, Garuda Indonesia tidak lagi melakukan pengutipan biaya PSC pada tiket," ujar Juru Bicara PT Garuda Indonesia Pudjobroto dalam siaran persnya, Rabu (24/9).

Dengan berakhirnya kerjasama tersebut, maka efektif 1 Oktober 2014 prosedur pengutipan biaya PSC telah diambil alih oleh pihak pengelola bandara kepada penumpang secara langsung, disaat keberangkatan di bandara.

Dia menegaskan, Garuda Indonesia, selama ini merupakan airline yang paling mendukung kebijakan pemerintah, dan keinginan pengguna jasa untuk menyatukan PSC pada tiket. Hal ini terbukti bahwa selama 2 tahun ini, hanya Garuda Indonesia Group yang melaksanakannya.

Pada saat awal kesepakatan antar pemangku kepentingan, disepakati bahwa dalam periode bridging, semua airline akan ikut. Namun terbukti, hingga sampai akhir masa kontrak, belum ada airline lain yang ikut, sehingga Indonesia tidak bisa masuk ke daftar negara IATA yang menerapkan kebijakan ini.

Penerapan PSC pada tiket yang selama ini diterapkan, dalam perjalanannya muncul beberapa hal yang tidak menguntungkan bagi Garuda. Antara lain terjadinya PSC tiket multileg stop over yang tidak ter-collect, yang setiap bulannya mencapai Rp 2,2 Miliar.

Biaya PSC yang dibayarkan oleh penumpang atas penggunaan jasa pelayanan dan fasilitas bandara ketika melakukan perjalanan dengan pesawat udara merupakan wewenang dan tanggung jawab penuh Pengelola Bandara, bukan tanggung jawab maskapai.

Peraturan Direktur Jendral Perhubungan Udara No. KP/447/2014, tanggal 9 Sep 2014 perihal pembayaran PSC pada tiket, akan menjadi payung hukum bagi pengelola bandara untuk mengimplementasikan PSC pada tiket sesuai dengan IATA standard. Di mana hal tersebut akan menjadi one for all solutions yaitu system PSC pada tiket sesuai IATA Standard berlaku untuk semua airline domestik dan internasional yang terbang dari dan ke Indonesia dan diterapkan secara serentak.

Menurut Dahlan, sudah dua tahun Garuda Indonesia menerapkan sistem praktis ini sayangnya tidak diikuti maskapai penerbangan lainnya. Padahal Kementerian Perhubungan selaku regulator sudah mengeluarkan aturan untuk penggabungan tiket dan airport tax ini. "Karena jadi korban yang lain tidak mau melaksanakan. Tapi dengan peraturan yang baru, semua harus melaksanakan," jelas dia.

Selama ini Garuda Indonesia menanggung dampak negatif akibat program penggabungan tiket dan airport tax. Langkah Garuda yang kembali memisahkan airport tax, sebagai tindakan yang tepat. Selama ini, harga tiket Garuda dan anak usahanya Citilink yang merupakan penerbangan kelas murah terkesan lebih mahal ketimbang maskapai penerbangan lainnya. "Betul aja kalau gitu. Terserah kemenhub. Mau mau maju atau primitif. Kalau mau primitif terus," ungkapnya.

Dahlan mengatakan ada syarat jika Garuda Indonesia kembali menggabungkan pembayaran airport tax. Seluruh maskapai nasional yang melayani penerbangan nasional yang melayani penerbangan reguler telah menerapkan penggabungan airport dan tiket."Kalau yang lain melaksanakan. Dia (Garuda Indonesia) harus balik lagi," katanya.


Sumber

Jangan Simpan Barang Ini di Bagasi Pesawat

Selasa, 09 September 2014 | 9.9.14

Saatnya memesan penerbangan dan pergi ke destinasi favorit. Selain menyiapkan dana dan membuat jadwal kegiatan di tempat tujuan, ada satu hal penting yang tidak boleh diremehkan, yakni mengemas barang.

Ketrampilan mengemas barang juga penting ketika hendak bepergian dengan pesawat terbang. Jika barang bawaan tak terlalu banyak, gunakan saja tas koper kecil yang bisa masuk ke dalam kabin.

Dimensi kabin umumnya berukuran 40 cm x 30 cm x 20 cm. Saat ini sudah banyak tas koper yang memiliki ukuran lebih kecil dari itu, sehingga perjalanan penumpang pun lebih praktis. Menggunakan kabin lebih aman dibanding meletakkan tas di bagasi.

Konsekuensi terburuk meletakkan tas di bagasi adalah hilangnya barang berharga. Oleh sebab itu, penumpang pun harus cerdas mengemas barang. Jika terpaksa menggunakan bagasi, sebaiknya barang-barang penting seperti di bawah ini disatukan ke dalam tas kecil yang bisa Anda bawa di kabin.

Paspor
Visa
Kartu identitas atau ID Card
Tiket maskapai atau E-ticket
Nomor reservasi hotel dan rental mobil
Uang
Kartu kredit
Kunci rumah
Laptop
Gadget
Surat-surat berharga


Sumber

Harga Rendah, Garuda Indonesia Tunda Penjualan Saham Citilink

Chief Executive Officer Garuda Indonesia Emirsyah Satar telah memastikan bahwa perusahaan akan menunda penjualan sebagian saham anak usahanya, Citilink Indonesia. Penundaan itu dilakukan karena harga yang diminta oleh calon investor masih terlalu rendah.

Pada bulan Juli, maskapai penerbangan nasional Indonesia itu mengumumkan sedang melakukan pembicaraan dengan dua investor stragis yang siap membeli saham Citilink Indonesia. Pada saat itu Garuda Indonesia berencana menjual 40-49 persen saham, sehingga masih menjadi pemegang saham mayoritas.

Beberapa kali Emirsyah Satar mengatakan bahwa calon investor itu berasal dari kalangan maskapai penerbangan. Sejumlah spekulasi beredar, maskapai penerbangan yang tertarik membeli saham Citilink Indonesia adalah Ryanair dari Irlandia dan All Nippon Airways (ANA) asal Jepang. Belakangan Singapore Airlines juga dikabarkan menjadi kandidat kuat. Namun kabar-kabar itu tidak ada yang dikonfirmasi kebenarannya.

Mendapatkan investor strategis menjadi hal yang sangat penting bagi pertumbuhan Citilink dalam rangka bersaing dengan maskapai penerbangan berbiaya rendah lainnya yang terus mengalami pertumbuhan, Lion Air.

Sumber

Garuda Gencar Buka Rute ke Indonesia Timur untuk Dukung MP3EI

Kamis, 04 September 2014 | 4.9.14

Maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia saat ini sedang sangat gencar membuka rute-rute baru di kawasan Indonesia Timur. Hal itu dilakukan perusahaan untuk mendukung program Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan bahwa untuk mendukung program MP3EI ini pihaknya sudah menyiapkan pesawat baling-baling ATR 72-600 untuk melayani penerbangan ke daerah terpencil. “Untuk mendukung MP3EI, kita akan membuka rute-rute yang menghubungkan ke kota-kota kecil melalui hub-hub. Kita menggunakan pesawat jenis ATR 72-600 dengan kapasitas 70 penumpang,” kata Emirsyah Satar di Jakarta Convention Centre, Rabu, 3 September 2014.

Bandara-bandara hub yang dimaksud oleh Emirsyah Satar antara lain Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bandara Juanda Surabaya, dan nantinya menyusul Bandara Sepinggan Balikpapan. Sedangkan untuk kawasan Indonesia Barat, Garuda Indonesia memilih Bandara Kuala Namu Medan yang digunakan sebagai hub bagi pesawat ATR 72-600.

Menurut Emirsyah Satar, dengan target armada sebanyak 50 pesawat ATR 72-600, maka pesawat ini nantinya akan mampu mengangkut hingga 8 juta penumpang per tahun, dengan syarat tingkat isian kursi rata-rata mencapai 80 persen. “Dengan ATR kita punya sebanyak 50 unit, maka akan dapat angkut penumpang 8 juta per tahun, intinya kita ingin perkuat penerbangan domestik,” katanya.

Naik 4 juta penumpang, 90 persen tiket mudik pesawat habis

Jumat, 18 Juli 2014 | 18.7.14

Merdeka.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan jumlah pemudik angkutan udara Lebaran tahun ini naik 11,48 persen atau 4.103.972 penumpang. Peningkatan jumlah pemudik ini baik untuk penerbangan dalam dan luar negeri.

Direktur Angkutan Udara Kemenhub, Djoko Murdjatmodjo, mengakui tren jumlah pemudik pengguna pesawat terus mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di mana mampu mencapai 6 persen.

"Jadi trennya memang kelompok jumlah penumpang yang mampu membeli tiket terus naik dan juga kelompok masyarakat yang tidak mampu tapi menabung juga naik sehingga kelompok ini juga mampu membeli tiket meski mahal," ujarnya saat acara 'Presbackground Angkutan Lebaran Angkutan Udara' di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (16/7).

Menurut Djoko, pertumbuhan masyarakat kelas menengah terus meningkat di masa mendatang. Kepercayaan masyarakat kelas menengah pada moda transportasi ini juga terlihat dari angka penjualan tiket pesawat periode Lebaran tahun ini sudah habis terjual hingga 90 persen.

"Yang jelas penumpang kita banyak, ada 90 persen tiket sudah terjual, itu dari penerbangan reguler belum ekstra flightnya," ungkapnya.

Berdasarkan catatan Kemenhub, jumlah pemudik dalam negeri angkutan udara periode Lebaran tahun ini diprediksi mencapai 3.498.260 penumpang atau naik 11,87 persen dari 3.127.003 penumpang. Sedangkan, jumlah pemudik luar negeri naik 9,26 persen menjadi 605.712 penumpang dari 554.361 penumpang.

Adapun rute dalam negeri yang diperkirakan mengalami peningkatan penumpang meliputi Jakarta - Surabaya, Jakarta - Medan dan Jakarta Denpasar serta Surabaya - Makassar, Surabaya - Denpasar dan Surabaya - Banjarmasin.

Peningkatan rute luar negeri meliputi Jakarta - Singapura, Jakarta - Kuala Lumpur, Jakarta - Hongkong, Denpasar - Singapura, Medan - Kuala Lumpur dan Surabaya - Singapura.
(mdk/bim)


Sumber

Penerbangan tepat waktu, Garuda terbaik Wings Air terburuk

Merdeka.com - Kementerian Perhubungan mengumumkan laporan performa ketepatan waktu (on time performance) untuk enam maskapai penerbangan nasional sepanjang paruh awal 2014. Secara keseluruhan, rata-rata ketepatan waktu penerbangan untuk maskapai nasional hanya 78,9 persen.

"Ada 6 maskapai dalam negeri soal ketepatan waktu, antara lain Garuda, Sriwijaya, Citilink, Lion Air, Indonesia Air Asia dan Wings Air," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian perhubungan Djoko Murdjatmojo, di Jakarta, Kamis (17/6).

Wings Air berada di urutan paling buncit lantaran ketepatan waktunya hanya 70,74 persen. Di atasnya ada Indonesia AirAsia (72,79 persen), Lion Air (73,68 persen), Sriwijaya Air (82,5 persen), Citilink (82,10 persen), dan Garuda Indonesia (88 persen)

"Tertinggi memang Garuda, namun buka berarti tak delay, mereka juga sering delay tapi masih kecil," ungkapnya.

Menurut Djoko, keterlambatan penerbangan tidak sepenuhnya kesalahan maskapai. Pasalnya, keterlambatan juga disebabkan oleh padatnya lalu lintas di bandara dan faktor nonteknis lainnya.

"Apalagi Soekarno-Hatta sekarang sudah naik 72 frekuensi. Delay tidak mungkin dihilangkan, karena pesawat buatan manusia, operasi juga buatan manusia, ada faktor cuaca, teknis, operasional, kami upayakan seminimal mungkin terpenting penumpang tidak boleh ditelantarkan," jelas dia.

Sebagai informasi, total kapasitas tempat duduk yang disediakan maskapai nasional sepanjang H-7 hingga H-7 Lebaran sebanyak 4.398.233 kursi. Terdiri dari 4.188.794 kursi reguler dan 209.440 kursi tambahan.

Diperkirakan bakal terdapat 3.498.260 penumpang dalam negeri dan 605.712 penumpang luar negeri. Sehingga, total terdapat 4.103.972 penumpang selama Lebaran tahun ini.
(mdk/yud)


Sumber

Keempat kalinya Cathay Pasific dinobatkan maskapai terbaik dunia

Merdeka.com - Maskapai penerbangan Cathay Pacific Airways untuk keempat kalinya dinobatkan sebagai Worlds Best Airline atau maskapai terbaik dunia dalam gelaran Skytrax World Airline Awards tahun ini. Maskapai ini pernah menyabet gelar serupa pada 2003, 2005, dan 2009.

Penghargaan Skytrax ini didasarkan atas survei dari 18.850.000 penumpang pesawat di seluruh dunia yang memilih perjalanan favorit mereka dimulai dari Agustus 2013 hingga Mei 2014. Ada 41 indikator kinerja utama produk dan layanan maskapai penerbangan sebagai bahan penilaian.

Melalui siaran persnya yang diterima merdeka.com, Kamis (17/7), Chief Executive Cathay Pacific, Ivan Chu mengaku bangga atas pencapaian ini.

"Sebagai maskapai yang berbasis di Hong Kong, kami sangat bangga mewakili kota kami di panggung internasional dengan memenangkan penghargaan prestisius ini sekali lagi. Penghargaan Worlds Best Airline sangat penting bagi kami karena ditentukan oleh suara dari hampir 19 juta wisatawan di seluruh dunia," ujar Chu.

Chu mengklaim, maskapainya telah menjadi maskapai utama Hong Kong selama hampir 70 tahun. Pihaknya berambisi menjadikan Hong Kong salah satu hub terbesar di dunia penerbangan.

Chu mengaku jor-joran berinvestasi untuk memajukan bisnisnya. investasi untuk pesawat baru, standar pelayanan internasional, lounge dan produk lainnya, dan pengembangan jaringan ke destinasi lainnya.

"Cathay Pacific telah melakukan investasi yang signifikan untuk meningkatkan penawaran kepada penumpang dan memperkuat posisi sebagai salah satu maskapai penerbangan internasional yang dihormati," katanya.

Dia menyebutkan, untuk investasi pesawat, pihaknya merogoh investasi 220 miliar dolar Hong Kong. Pihaknya,e,beli 90 pesawat baru dan satu pesawat berbadan lebar yang paling modern di dunia. Pihaknya juga melebarkan sayap penerbangan dengan menawarkan jaringan ke lebih dari 190 destinasi di 46 negara dan teritori.

Chu menambahkan, pihaknya juga mengeluarkan dana 4,9 miliar dolar Hong Kong untuk memperbarui kabin di seluruh armada maskapai selama empat tahun terakhir.

Pengembangan jaringan akan tetap menjadi fokus utama Cathay. "Industri penerbangan menjadi lebih kompetitif dari hari ke hari dan satu-satunya cara untuk mempertahankannya adalah dengan terus memberikan yang terbaik kepada penumpang di setiap tingkatan," tutupnya.


(mdk/noe)


Sumber